Perkembangan zaman yang semakin menggila ternyata memiliki andil besar dalam menghancurkan moral anak bangsa dari segala sisinya. Bahkan kehancuran tersebut mampu merasuk ke segala aspek kehidupan, hingga mau tidak mau kita ikut merasakan dampak dari kebejatan akhlaq yang semakin menjadi-jadi.
Bukan rahasia lagi kalau selama ini masyakat muslim Indonesia sering terjebak dalam ritual-ritual hasil sinkretisme agama atau perayaan-perayaan yang mirip agama lain. Walhasil selain bersikap latah, pun tenggelam dalam budaya kesyirikan yang semakin meluber di negeri kita. Masyarakat Islam, sadar atau tidak, bahkan memberikan andil terbesar dalam pelestarian ritual-ritual ala “Abu Jahal” dan begundalnya yang acap diistilahkan dengan budaya, adat istiadat dan sebagainya.
Praktek kesyirikan pun semakin menjadi-jadi sekarang ini. Dari mulai oper penyakit lewat kambing, hingga praktek perdukunan dengan plang “Anti Syirik”, katanya. Tidak mustahil, mungkin saja nanti akan muncul “Santet Ala Sunnah”, na’udzubillahi min dzalik. Belum lagi cerita-cerita fiktif produk film yang selalu menampilkan sosok drakula penghisap darah, tuyul-tuyul lucu yang sakti, pocong, dan makhluk ‘lelembut’ lainnya, menjadi hidangan ‘lezat’ bagi para pecandu tayangan televisi. Tak ayal, sosok-sosok rekaan tersebut mampu menyusupi akidah mereka.
Inilah fenomena yang perlu dibabat habis oleh singa-singa tauhid. Sehingga anak cucu kita tidak terbias oleh keadaan yang tidak sehat ini.
Tragisnya, keadaan ini semakin diperparah ketika muncul para tokoh sekuler yang selalu menghembuskan gagasan gilanya guna menolak mentah-mentah syari’at yang mulia ini. Akhirnya statemen nyeleneh yang sejatinya kekufuran yang nyata menjadi sarapan umat yang tak mengerti permasalahan.
Teologi pluralisme yang mengusung paham penyatuan agama yang ada di muka bumi ini, sejatinya telah lama digagas oleh sejumlah tokoh beberapa abad silam. Belakangan, ide nyeleneh ini meruak lagi di tengah umat tumbuh subur bak jamur dimusim hujan. Lagi-lagi, yang berada yang berada di balik upaya pengkaburan agama ini adalah orang-orang yang selama ini ditokohkan umat semacam At Turobi, Al Qorodhowi, dan lainnya.
Berdalih dengan kelembutan dalam berdakwah, yang akhirnya selalu mewarnai sepak terjang mereka selama ini. Mulai dari penyatuan semua aliran dalam Islam, hingga penyatuan semua agama samawi. Entah darimana ide gila ini muncul, tapi yang pasti isme ini sangat laris dibeli kawula muda anak bangsa yang mulai ‘hobi’ dengan buku-buku “islami”.
Dengan latar belakang inilah, kami segenap kru Tasjilat As Salafy Jember berusaha menyebarkan dienul Islam yang dibangun di atas Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman generasi As Salafus Sholih melalui penyebaran CD dan Kaset. Allah berfirman:
“Dan serulah (manusia) kepada jalan Rab-mu dengan cara yang hikmah dan nasihat yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS An Nahl:125)
Dan sabda Rasulullah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhori dan Muslim, dari sahabat Tamim Ad Dari, bahwasanya beliau berkata:
“Agama ini adalah berisi nasihat. Lalu para sahabat bertanya: ‘Nasihat untuk siapa wahai Rasulullah?’. Lalu beliau menjawab: ’Nasihat bagi Allah, bagi kitab-kitab-Nya, bagi Rasul-Nya, bagi para pemimpin Islam dan bagi seluruh kaum muslimin”.
Kami berharap agar apa yang kami lakukan menjadi solusi tepat bagi segenap kaum muslimin dalam menghadapi keadaan yang tidak sehat saat ini. Semoga Allah menjadikan amalan ini bernilai besar di sisi-Nya. Amin ya Rabbal ‘Alamin.
Tasjilat As Salafy Jember



